Selasa, 07 Juni 2011

MENCARI NILAI TAMBAH DARI PROSES PENGERINGAN RUMPUT LAUT

MENCARI NILAI TAMBAH DARI PROSES PENGERINGAN RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) DI NUNUKAN KALIMANTAN TIMUR

Oleh : Ir. Dian Kusumanto

(AREN FOUNDATION - Nunukan, Mei 2011)

Selama ini penjualan rumput laut yang dilakukan oleh para petani adalah dalam bentuk rumput laut kering. Oleh karena itu petani dituntut untuk melakukan proses pengeringan terlebih dahulu kemudian baru dijual kepada para pedagang pengumpul berupa rumput laut kering (dried seaweed). Untuk melakukan pengeringan para petani harus mempunyai tempat dan alat-alat dalam proses penjemurannya.

Para petani di Indonesia pada umumnya menyiapkan tempat penjemuran dengan berbagai cara, antara lain seperti :

1. Para-para di atas laut yang terbuat dari kayu dan dialasi dengan jaring plastik yang disebut ‘Dari’ atau ‘Waring’ atau ‘Wareng’.

2. Para-para di dekat pantai yang terbuat dari kayu atau bamboo yang dialasi dengan jarring plastic, atau para-para bamboo.

3. Lantai semen, kadang dialasi terpal plastic atau kadang-kadang tanpa terpal.

4. Lantai pasir pantai yang dialasi dengan terpal plastic atau para-para terbuat dari bamboo.

5. Dengan tali jemuran yang bertingkat-tingkat.

6. Dll.

Pada mulanya petani rumput laut menghitung-hitung hari kapan saat memasang tali bibit di laut. Kalau sudah mencapai sekitar 45 hari berarti panen rumput laut sudah bisa dilakukan. Namun biasanya para petani masih mempertimbangan kondisi cuaca, apakah kira-kira akan hujan atau tidak. Jika diperkirakan akan terjadi hujan yang lama, biasanya para petani rumput laut menunda panen. Sebab jika dipanen nanti akan repot pada saat masa-masa proses pengeringannya. Proses pengeringan akan membutuhkan waktu yang lebih lama dan tenaga yang lebih banyak.

Proses pengeringan ini dilakukan agar rumput laut bisa disimpan lebih lama atau lebih lebih awet. Sehingga sewaktu-waktu bisa dijual atau diolah tanpa mengurang mutu dan kualitas yang diinginkan. Disamping itu, dengan volume dan berat yang lebih sedikit akan mengurangi biaya angkut dan kemasan jika akan dijual kepada pedagang atau pabrik. Biasanya pedagang mensyaratkan kadar air rumput laut kering dalam kisaran 35- 38%, dengan kadar kekotoran (impurities) antara 3-5%.

Para petani atau pedagang rumput laut kering ini sudah sangat paham dengan ukuran kadar air ini. Biasanya cukup dirasakan dengan cara mengenggam rumput laut kemudian membuka genggaman tangannya. Dengan dirasakan oleh permukaan kulit tangannya dan gerakan rumput laut sehabis digenggam, maka bisa diperkirakan bahwa rumput laut ini sudah cukup kering atau belum.

Idealnya proses pengeringan dilakukan dalam waktu yang secepat-cepatnya yaitu sekitar 3 hari setelah dipanen. Waktu proses pengeringan yang ideal ini akan memaksimalkan rendemen rumput laut kering yang diperoleh. Namun bisa terjadi lamanya waktu pengeringan sampai 7 hari atau bahkan 14 hari baru mencapai kekeringan rumput laut yang sesuai standard. Lamanya proses pengeringan ditentukan oleh beberapa hal, seperti :

1. Keadaan cuaca (hujan, mendung, malam hari)

2. Factor tenaga kerja,

3. Sarana prasarana pengeringan dan

4. Metode yang dilakukan.

Pada kondisi cuaca kering atau kemarau pun ternyata petani belum memanfaat waktu pengeringan yang maksimal. Karena pada sore hari, malam hari sampai pagi hari dan matahari benar-benar cukup, mereka masih menutupi tumpukan rumput lautnya dengan terpal. Rata-rata petani melakukan penutupan tumpukan rumput laut itu mulai sekitar jam 5 sore sampai dengan sekitar jam 8 pagi, yaitu kurang lebih selama 15 jam dalam sehari. Artinya dalam situasi cuaca sangat bagus untuk pengeringan saja proses pengeringan hanya sekitar 9 jam setiap harinya, apalagi jika cuaca hujan dan mendung atau musim penghujan.

Padahal kita tahu bahwa sangat riskan menumpuk bahan yang lembab dalam waktu yang relative lama. Bahan-bahan tersebut pasti akan mengalami proses enzimatis antara lain fermentasi atau proses perombakan bahan. Proses fermentasi selalu akan menghasilkan Gas, Air dan Energi. Gas itu bisa saja berupa CO2 (Karbon dioksida), NH4 (Amoniak), CH4 (Methan) atau yang lainnya, dan Energi yang bisa berupa panas daya tekan dan lain-lain. Sehingga proses fermentasi ini selalu akan mengurangi massa berat bahan materi.

Demikian juga rumput laut yang proses pengeringannya butuh waktu yang lama, pasti akan mengalami proses fermentasi dan susutnya kadar bahan kering atau rendemen keringnya rumput laut. Semakin lama proses pengeringan berarti peluang untuk mengalami kesusutan bahan karena proses fermentasi akan semakin besar pula. Sebaliknya, kalau kita menginginkan rendemen rumput laut keringnya tinggi maka harus diusahakan proses pengeringannya lebih cepat dan meminimalkan terjadinya proses fermentasi.

Dengan uraian di atas kita akhirnya dapat memahami bahwa cepat atau lambatnya proses pengeringan ternyata sangat mempengaruhi angka rendemen rumput laut kering. Semakin cepat proses pengeringan dilakukan maka akan semakin maksimal kandungan kering rumput lautnya.

Atau bisa dikatakan bahwa angka rendemen rumput laut kering sangat dipengaruhi oleh beberapa factor, antara lain :

1. Umur panen rumput laut, yang ideal adalah umur 45-55 hari

2. Kadar air awal rumput laut pada saat penimbangan.

3. Metode, alat dan tempat proses pengeringan

4. Cuaca pada saat pengeringan

5. Lamanya proses pengeringan

6. Dll.

Beberapa pengalaman para petani maupun yang dilakukan oleh Unit Riset AREN FOUNDATION diperoleh angka rata-rata sebagai berikut :

1. Penjemuran dengan waktu 3 hari akan diperoleh rendemen rumput laut sampai dengan 13 – 14 %.

2. Penjemuran selama 7 hari akan diperoleh rendemen sekitar 10 %

3. Penjemuran sampai di atas 10 hari rendemen akan turun menjadi dibawah 9%.

Angka-angka di atas adalah pengalaman petani di Nunukan Kalimantan Timur, yang belum dikaji secara Metodologi Penelitian Akademik. Oleh karena itu hal ini terbuka peluang untuk menjadi bahan penelitian mahasiswa, peneliti atau siapa saja yang tertarik atau membidang masalah ini.

Bagaimana menurut Anda???

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar